Dunia Krisis, Pilih Investasi Emas ~ Guide To Investasi Emas
Panduan Cermat Berinvestasi Emas
Posted by Unknown on 1:30 PM in | No comments
Surabaya- Krisis Yunani mulai reda pasca negara itu memperoleh utang dari IMF dan Uni Eropa sebesar Rp 153 triliun. Meski risiko turun, tapi negara-negara masih waspada karena keputusan Parlemen Yunani menghemat anggaran dan menaikkan pajak--sebagai syarat memperoleh pinjaman--malah memicu chaos antara pemerintah dan warga.


Di saat krisis global menghantui, kemanakah alternatif  investasi yang tepat? Tentu saja investasi yang aman dan stabil, serta dapat diandalkan di masa krisis. Menurut Pengamat Ekonomi INDEF, Ahmad Erani Yustika Emas menjadi instrumen investasi paling aman, meski kurang liquid. “Emas kan dari dulu disebut save heaven, apalagi akhir-akhir ini terus naik harganya,” ujarnya Sabtu (2/7).

Menurut catatan, harga emas untuk pengiriman Agustus turun 1.502,80 dollar/troy ounce (Rp 435.000/gram) di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Emas telah naik 4,4% pada kuartal kedua. 

Sementara, pada kuartal pertama naik 1,3%, didukung pemberontakan di Afrika Utara, Timur Tengah dan terbaru krisis utang Yunani. Emas menguat dalam dua sesi terakhir, karena komoditas secara umum terdorong harapan tinggi atas ekonomi global, setelah Yunani mengambil langkah-langkah menuju tahap lain dari bantuan keuangan dan menyetujui rencana penghematan.

“Memang kecil kemungkinan bisa berdampak ke Indonesia, tapi harus waspada karena krisis Yunani bisa berimbas besar terhadap Amerika Serikat, “ ujarnya.

Bila itu terjadi, maka investasi di mata uang asing (valuta asing/valas) kurang aman. Apalagi saat ini beberapa negara Eropa seperti Portugal sudah terkena imbasnya.”Inikan kaitannya terhadap nilai tukar valuta asing, kalau sampai berimbas ke Amerika dan Eropa, nilai tukar bisa terguncang, perdangangan dunia bisa turun drastis dan iklim pasar keuangan juga bisa terganggu. Dan yang lebih ditakutkan terjadinya gagal bayar utang di bank. Pasalnya kondisi tersebut nantinya akan membuat nilai tukar rupiah menguat sementara pinjaman valuta asing Indonesia sedang tinggi. hal tersebut bisa menjadi kepanikan pasar global,” papar Erani.

Selain waspada terhadap guncangan eksternal, Erani juga mengungkapkan Pemerintah harus waspada terhadap guncangan internal yang mungkin bisa berpengaruh juga sebagai imbas kegagalan produksi pangan indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Sementara menurut pengamat dan pelaku industri properti, Teguh Kinarto, investasi properti juga aman meski tidak liquid. “Tiap tahun ada kenaikan harga sekitar 20% baik properti maupun tanah. Tapi kalau butuh uang cepat memang sulit,” katanya. Menurutnya, investasi properti tidak terpengaruh inflasi, krisis ekonomi negara lain. Bahaya baru mengancam jika daerah tersebut dilanda bencana alam. 

Untuk di pasar modal, tingginya arus modal tahun ini mendorong kenaikan harga pada obligasi negara. Artinya, imbal balik obligasi terhadap tenor 10 tahun menurun dari 10,22% menjadi 7,6%. Bahana Investment Management memperkirakan imbal hasil (yield) obligasi negara bergerak pada kisaran 7,5%-8,5% untuk 2011.

Pemerintah sendiri tahun ini akan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) senilai Rp200 triliun, lebih besar dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp170 triliun. “Peningkatan nilai ini, karena kebutuhan pendanaan pemerintah dari SUN bertambah tahun ini,” kata Presiden Direktur Indonesia Bond Rating Agency, Ignatius Girendroheru. 

Sedangkan analis PT Samuel Sekuritas Adrianus Bias Prasuryo mengakui, dari segi valuasi, saat ini indeks harga saham gabungan (IHSG) diperdagangkan pada PE (price to earning ratio) 14,3 kali, relatif lebih mahal dibandingkan dengan rata-rata historis lima tahun yang berkisar 13,15 kali, namun masih lebih rendah dari level tertinggi yakni pernah dibuat di 16,9 kali. Apalagi, pada penutupan pekan ini, Jumat (1/7) IHSG ditutup di level 3.927, level tertinggi sepanjang sejarah.

“Kami melihat, bursa Indonesia masih pantas diperdagangkan premium seiring ekspektasi kenaikan rating menjadi investment grade di 2011,” kata dia. 

Hal lain yang mendasari adalah rasio return on equity (ROE) Indonesia yang mencapai 34%, tertinggi di kawasan regional Asia dan ratio price/earning to growth (PEG) yang relatif rendah hanya 0,6 kali, ketiga terendah di kawasan Asia. “Tapi tetap harus wasapada, kalau yang masuk kebanyakan ‘hot money’ maka nilai IHSG bisa jeblok sewaktu-waktu,” katanya.m15,ins

Sabtu, 02/07/2011 | 12:02 WIB

0 comments:

Post a Comment

Search Our Site

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter